Kisah dari Sebatang Lilin

11 Comments



Aku cukup mengenal gadis itu, kurasa. Akhir-akhir ini dia sering menggunakan jasaku walaupun tidak untuk waktu yang lama. Tapi waktu yang singkat itu membuatku ingin selalu melihatnya. Aku tak tahu kenapa dia memilihku, padahal masih banyak yang lebih baik. Aku merasa beruntung bisa bertemu dengannya.

Awal pertemuanku dengannya senja kala itu. Aku lupa tepatnya. Dia baru pulang entah dari mana. Ketika melihatku dia hanya tersenyum. Ah senyum yang manis. Gadis itu berumur awal dua puluhan dengan kulit putih dan lesung pipi disebelah kiri. Aku tak mau menyebut namanya. Biarlah dia kusebut dengan nama gadis itu. Sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya, tanpa nama.

Dia suka bermain dengan rambutnya yang panjang ketika bersamaku. Walaupun dalam keremangan aku tahu rambutnya diwarnai dengan warna merah. Dia tak banyak berbicara. Hanya sesekali dia bersuara. Kukira dia tak bisa bicara. Tapi sepertinya dia seorang yang pendiam. Seperti saat ini, dia hanya menatapku dalam diam. Dia cantik, tentu saja. Tapi bola matanya yang hitam menampakkan kesedihan. Hei, apa dia sedang dalam masalah? Bicaralah. Aku bisa menjadi pendengar.

Dia tak bergeming. Tetap diam sambil menopang wajahnya dengan tangan, menatapku. Aku benci dia menatap seperti itu. Aku malu. Lebih baik dia sibuk dengan ponselnya daripada menatapku dengan sedih.

Dia beranjak dari hadapanku, menatap keluar lewat jendela. Itu lebih baik. Dia kembali menghadap ke arahku, tersenyum. Aku suka senyum itu.

"Hei, terima kasih sudah menemaniku." Dia bersuara pelan. Tapi aku bisa mendengar desah nafasnya.

Dan semua gelap. Dia bahkan belum memberitahuku kapan akan bertemu lagi. Ya aku tahu pertemuan kami selalu tanpa janji sebelumnya. Tapi aku selalu menanti pertemuanku dengannya. Kini semua tampak terang. Dia meraihku, menempatkanku kembali di sudut meja. Kembali menjadi sebatang lilin tanpa nyala.




You may also like

11 comments:

  1. Hehehe, penempatan si aku-nya tepat banget deh. ^^ Menghayati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini terinspirasi waktu mati lampu :D

      Delete
  2. Jd aku sebuah lilin.....

    Aku jg punya cerita lilin

    http://www.jiah.my.id/2014/01/candle-light-dinner.html

    http://www.jiah.my.id/2015/05/lilin-untukmu.html

    #Eh malah promosi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak
      btw saya suka cerita lilinnya :)
      Makasih udah mampir

      Delete
  3. Replies
    1. Yang mencoba memberi kebahagian dari kehidupanku :)

      Delete
  4. dari mati lampu menjadi sebuah cerita. Keren hehehe

    ReplyDelete
  5. hah lilin, aku bingung sih bacanya

    ReplyDelete
  6. Sukaaa ... serasa masuk ke dalam cerita. ternyata "aku" nya sebuah lilin. Dan inspirasinya dari mati lampu. keren :)) etapi maaf sebelumnya itu habis kata pertama kali kan ada kali lagi, typo apa bukan ya? hee

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah iya mbak gil. makasih koreksinya :D

      Delete