Perempuan dan Memasak

14 Comments


(sumber gambar: pinterest.com)


"Nduk, kalo mamak masak mbok yo diliat biar tau".

Dulu sering banget kalimat ini kudengar. Tepatnya sih saat masih jamannya sekolah. Saat mamak lagi masak dan kebetulan aku bersliweran di dapur. Kalo udah denger kalimat itu aku cuma bisa diam trus mencoba membantu. Ya palingan bantu kupas bawang doang, habis itu pergi entah ke mana. Sebenarnya mamak ga pernah memaksa untuk belajar masak. Cuma kadang kalimatnya itu sesuatu sekali. Terdengar datar tapi kesannya mengintimidasi. Tapi yah namanya aku ga peka. Jadi santai aja tiap disuruh belajar masak. Toh aku masih sekolah, masih banyak waktu untuk belajar masak.

Ada banyak alasan kenapa aku ga suka tiap disuruh masak. Kenapa? Karena menurutku masak itu sesuatu yang ribet. Trus panas juga soalnya dekat kompor, pedis dari bawang merah, atau bisa terluka karena pisau. Belum lagi kalo terciprat minyak panas. Ko mamak bisa enjoy aja sih masak selama ini. Aku selalu bercita-cita kelak aku bisa jadi orang berpunya jadi bisa nyewa PRT buat masak biar suamiku tetap bahagia makan makanan rumahan. Harapan yang begitu sempurna kan sebagai ibu rumah tangga, hahaha.

Tapi itu dulu, waktu aku masih suka mandi hujan pake kaos dalam gambar bintang-bintang. Sampai akhirnya aku kuliah jauh dari rumah. Salah satu hal yang dikangenin itu masakan rumahan mamak. Berbekal naluri dan hasil nelpon mamak, aku jadi sering masak sendiri. Selain lebih hemat, juga bikin hati puas. Sejak itu aku jadi seneng masak. Tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Cita-cita waktu kecil pun berubah. Aku pengen nanti bisa memasak sendiri untuk suami dan anak-anakku.

Aku jadi teringat, dulu mamak pernah bilang ke aku. "Perempuan itu harus terbiasa di dapur untuk memasak. Secara tidak langsung itu tugas perempuan untuk memasak buat suami dan anak-anaknya. Masa iya kamu mau bergantung sama orang lain soal memasak? Ga perlu memaksa, kalaupun sekarang mamak sering nyuruh kamu masak itu biar kamu terbiasa. Nanti akan ada saatnya naluri memasak itu timbul, entah karena alasan  apa".

Gila ya, masak aja ada nalurinya. Tapi aku percaya sih. Buktinya sekarang aku masak tanpa disuruh. Bisa mengira-ngira berapa bumbu yang mesti dipakai tanpa harus tanya-tanya. Apa ini yang dinamakan naluri memasak? Kurasa iya. Kalo kasusku mungkin naluri memasak karena harus hidup hemat sebagai anak kos, hahahaha. Tapi kurasa ini juga karena terbiasa sih. Aku jadi ketagihan masak. Apalagi kalo yang makan masakan kita bilang enak. Rasanya seneng banget. Ini kali ya yang dirasain mamak tiap masak buat keluarga.

Pernah juga suatu sore main ke rumah salah seorang teman yang sudah berkeluarga karena lama tak bertemu. Dulu sebelum  dia berkeluarga, kami ngobrol di kamar sampai lupa waktu. Tapi saat itu kami mengobrol di dapur sambil masak buat makan malam. Aku tahu temanku ini paling ga bisa masak. Keahlian dia itu dandan, padahal udah cantik tanpa make up. Aku sedikit kaget saat dia dengan gesitnya memasak."Karena cantik aja ga cukup Nis bikin suami senang. Lagian aku puas banget kalo suamiku bilang enak dan makan dengan lahap masakanku". Jadi ternyata begitu. Kalo kasus temanku ini naluri memasak karena suami. Kupikir dia pasti bahagia, lebih bahagia dari pada dapat diskonan kurasa.

Tapi apa cuma perempuan yang punya naluri ini? Ga juga ko. Banyak diluar sana koki/cheff pria yang punya keahlian wow dalam memasak. Ga usah jauh-jauh deh sama cheff yang terkenal, karena mereka pasti udah pro banget berkat pengalaman. Aku cukup menyebut bapak sebagai contoh. Yap, bapak itu cheff terbaik nomor dua. Iya terbaik nomor dua, tapi di rumah, setelah mamak tentunya. Walaupun jarang menyentuh peralatan dan isi dapur, tapi bapak bisa masak makanan yang enak bin endess. Hmmm....*mendadak ingat nasi goreng spesial buatan bapak*.

Kalo pria yang notabene ga terlalu kenal dapur dan isinya aja bisa masak dengan enaknya, kenapa perempuan ga? Perempuan yang bisa masak itu tetap punya nilai plus lho. Jadi gemana para perempuan? Apa kalian sudah punya naluri itu?




You may also like

14 comments:

  1. Memasak itu sama dengan menulis. Harus dengan hati. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mbak
      suasana hati juga ngaruh ke masakan

      Delete
  2. naluri makan punya2, buanyaaaak malah

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo makan sih naluri manusiawi hahaha

      Delete
  3. naluri makan punya2, buanyaaaak malah

    ReplyDelete
  4. kalo jadi istri itu jgn pernah masakin suami...
    suami kok dimasak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masakin suami kan maksudnya masak buat suami hehe

      Delete
  5. Dulu, ketika masih ngontrak bareng2 temen kuliah, kami juga sering masak kok. Hehehe

    Salam Kenal

    ReplyDelete
  6. Sebenarnya sih nggak ada keharusan buat perempuan untuk bisa masak kalau menurut saya. Kalau dia enjoy masak, silahkan, kalau nggak, ya jangan dipaksakan. Tapi salah satu cara naklukin hati laki-laki ya dengan menaklukkan perutnya, makanya perempuan perlu juga belajar masak walau dikit. Apalagi masakan adalah salah satu cara untuk perempuan menunjukkan rasa cintanya. Dan kalau laki-lakinya benar-benar cinta sih nggak bakalan terlalu perduli si perempuannya masaknya enak atau nggak...

    ReplyDelete